Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2017

'Normal'

Melakukan sesuatu yang biasa maka aku akan dikatakan normal. Maksud dari biasa ini adalah seperti yang kebanyakan dikerjakan oleh orang-orang karena kalau berbeda maka akan dikatai tidak normal. Tapi, bagaimana nanti jika apa yang disebut pekerjaan normal itu terlalu sering dilakukan hingga tak terasa lagi, tanpa beban misalnya, apa itu bisa disebut sebagai normal? Jika hanya ia saja yang melakukan sementara yang sisanya tidak. Semisal, ada suatu kelompok yang menempati suatu daerah, katakan 10 orang. Mereka mendiami suatu tempat dan setiap hari mereka diharuskan untuk mengerjakan tugas rumah. Akankah hanya 5 orang saja yang melakukannya? 3 orang saja? sementara yang lain hanya melakukan ‘tugas mandirinya’? seperti, makan, tidur, bermain? Bukankah itu tidak adil? Kalau ditegur nanti malah yang mengingatkan di bilang cerewet. Menyebalkan. Banyak omong. Pemarah. Lalu, apa solusinya? Membiarkannya saja? Ikutan tidak mau melakukan apapun? Itu berarti aku sama saja. Kembali ...

Surat Untuk Kau yang Menyia-nyiakanku

Jangan salahkan aku jika pada akhirnya kau tidak bisa melupakanku. Kau yang mengatakannya bahwa kita hanya berteman, tidak lebih, sehingga kau pun memutuskan untuk bersamanya. Namun pada akhirnya kisahmu usai jauh sebelum bayanganmu, yang kau impikan, terjadi. Ternyata ia tidak seperti yang kau bayangkan. Apa kau tahu betapa keras usahaku untuk menolak perasaan yang sedang tumbuh berkembang ketika tiba-tiba saja kau memutuskan komunikasi kita? Aku menghargai keinginanmu jadi aku menahan diri, sekuat tenaga, agar tidak menghubungimu. Namun ketika rasa itu tak dapat ku tolerir lagi, puncak usahaku hanyalah memandangmu dari kejauhan dan ‘memata-matai’ akun media sosialmu, hanya untuk melegakan dahaga atau keingintahuanku atas apa yang sedang kau lakukan, yang kau rasakan. Aku merasa sedih, kecewa, hancur, tentu saja. Namun aku akan jadi lebih sedih, lebih kecewa, lebih hancur lagi jika aku tidak tahu apa-apa tentangmu. Kau milik orang lain, aku mengerti itu, tapi... Kau pasti tah...

Setiap Orang Terlahir Sendiri

Setiap orang terlahir sendiri. Ia tidak memiliki apapun selain pemberian dari kedua orang tuanya dan juga orang-orang yang ada di dekatnya. Dan setelah ia dewasa maka ia akan berusaha sendiri untuk mendapatkan apa yang bisa menjadi miliknya. Teman. Apakah ia bisa dimiliki? Teman. Mungkinkah aku bisa mengklaimnya menjadi milikku? Apa sih makna dari kata teman itu? Orang yang selalu bersama kita? Orang yang memahami kita? Orang yang menemani di saat tertentu, saat sedih atau saat senang saja? apakah yang tiba-tiba menghilang itu bisa disebut sebagai teman? Mungkin. Tapi ia jenis teman yang... Entahlah, aku juga tidak tahu. Teman. Itu... Aku akan kembali pada soal manusia yang terlahir sendiri. Ia terlahir sendiri maka setelah ia dewasa, ia akan kembali sendiri meski sebelumnya ia banyak dikelilingi oleh orang banyak. tak terkecuali dari temannya. Apakah salah jika aku ingin di dengarnya? Aku benar-benar kecewa dan ingin menangis sekarang. aku merasa terbuang. Dihempa...