Ayahku Idolaku (Ayah yang Menyayangi Ibuku)




Menjadi seseorang yang penting bagi orang lain menjadikan diri jadi lebih berarti. Setidaknya keberadaannya diakui dan dianggap. Terlebih jika mendapatkan perlakuan itu dari orang terpenting kita, ayah kita.
Siapapun pasti tahu dan merasa bahwa ia adalah kebanggaan orang tuanya, ayahnya. Ayah bahkan rela melakukan apapun untuk anaknya, jadi teman, sahabat, teman ngobrol, dan... ayah. Ia adalah idola. Aku tak pernah memikirkan hal ini sebelumnya namun berada jauh darinya membuatku terus berpikir dan berpikir. Hal ini tentu saja di mulai dari 4 tahun yang lalu ketika aku mendapatkan tugas untuk menceritakan tentang orang tua kita dan yang ada di dalam pikiranku adalah... ayah.
Aku tidak tahu kenapa padahal pada diri anak perempuan sosok ibulah yang jadi idola tapi aku tidak. Ibu tentu saja penting tapi keberadaan ayah, ia sudah seperti bulan bagiku. Meski ia sulit disentuh, karena laki-laki tidak mudah untuk mengatakan perasaannya dan lebih memilih untuk melakukannya dibalik layar-persis seperti bulan yang hanya jadi pengamat, tapi ia selalu memantau keberadaan kita meski dengan cara yang berbeda. Ia tidak pernah mengatakannya secara langsung tapi ia jelas peduli dengan apa yang terjadi dengan kita. Hanya saja caranya yang berbeda.
Aku selalu ingin, dan berharap, untuk bisa membuatnya senang. Bahkan meringankan bebannya ketika situasi menjadi sulit, mengurangi kesukarannya. Dan hari ini... akhirnya aku bisa. Hanya hal kecil tapi dampaknya luar biasa. Aku senang karena aku akhirnya menjadi berarti baginya. Aku tidak hanya merepotkannya dan jadi meringankan bebannya meski hanya beberapa mili atau gram saja. Setidaknya aku sudah berusaha dan setelahnya pun begitu. Aku akan berusaha lebih keras lagi.
Ayah adalah yang menjaga ibu jadi sayangku padanya lebih besar karena ia yang menjaga kesayanganku. Ia yang melindungi ibu dan yang mempedulikannya jadi aku akan lebih, berusaha, melindunginya lagi agar ia tetap bisa melindungi ibu yang ku sayangi.
Sayang ayah yang menyayangi ibuku.

Komentar